Thursday, September 17, 2009

Ngeblog Harus Dengan Taste

Minimal tiga kota yang ia datangi dalam seminggu. Seperti minggu kemarin, laki-laki penyuka film drama ini baru saja mengunjungi makasar, pelembang terus surabaya. Sebagai tim visitasi rumah sakit, Anjari yang dikalangan blogger dipanggil eyang itu harus berkeliling ke seluruh pelosok Indonesia.

Bagian pekerjaannya sebagai karyawan Departemen kesehatan adalah menilai kelayakan sebuah rumah sakit sesuai dengan kelasnya. Disamping itu ia juga sering diundang berbicara untuk mensosialisasi kebijakan atau peraturan bidang kesehatan, perizinan rumah sakit dan konsep badan layanan umum untuk rumah sakit.

Pernah ia suatu kali ke daerah pelosok ter[encil yang namanya saumlaki, pulau terluar indonesia yang jaraknya lebih dekat ke Darwin daripada ke Ambon. Beruntung meski jauh daerah itu bisa dijangkau pesawat kecil. Karena jauhnya ia diam-diam bertanya, masihkah ini indonesia.

Satu-satunya dokter ya hanya kepala dinasnya kesehatannya. Ia lalu mengutip cerita dokter yang ia temui itu, karena terbatasnya sarana kesehatan, dokter tersebut pernah melakukan operasi cesar. Hanya diterangi lampu biasa, memakai pisau yang dipanasi dengan lilin. Dan peristiwa itu ditonton langsung oleh warga.

Sampai sekarang ini, ia masih terus ke kota-kota terpencil lainnya. Namun di sela-sela kesibukannya, bapak empat orang anak ini energinya melimpah. Ia selalu menyempatkan diri untuk memposting pengalaman dan idenya ke blognya. Menurutnya blog adalah tempat bersenang-senang. “Ngeblog itu tak bisa disempat-sempatkan. Kalau suka, ya pasti sempat”, katanya.

Supaya mendapat kesenangan itu makanya ngeblog sesuai dengan apa yang kurasakan dan kupikirkan. Seperti motoku ‘Menulis Pikiran, Mengucap Rasa”. Dan ia lalu membuat tagline yang yang fenomenal “ngeblog dengan taste”.

Dari banyaknya komentar di blognya kita tahu, blognya sangat populer. Tentu saja ini dikarenakan postingan-postingannya yang menarik dan tak sedikit yang menunggu-nunggu. Menurtnya idenya yang tak pernah habis itu adalah responnya terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Tak sedikit postingannya yang menuai cacian. Misalnya pada postingan, selamat jalan pejuang.
Mendapat serangan itu, ia menghadapinya dingin. Menurutnya, perpedaan pandangan itu biasa. Malah mengasyikkan. Laki-laki penyuka film drama ini mengatakan, “masalah bukan terletak pada perbedaan itu, tapi bagaimna mensikapi perbedaan itu.

Masih menurutnya, setiap blogger harus punya kesadaran, apapun yang kita posting di blog, itu akan mendapatkan respon. Dan kita harus siap. Sepahit atau semanis apapun. Andai tak siap dengan risiko tersebut lebih baik berhenti ngeblog saja.

Ia Mulai ngeblog di blogdetik sejak 2008. Alasannya memilih blogdetik, seperti diungkapkan dalam postingannya, ia mencintai “produk” dalam negeri. Alasan lainnya, ia suka berteman dengan banyak orang, buktinya selalu aktif mengajak kopdaran dengan blogger detik lainnya.

Apalagi tuntutan pekerjaanya memungkinkannya dia kopdaran dengan blogger-blogger di seluruh pelosok negeri. Mulai dari Aceh, Medan, Palembang, Jogjakarta, Surabaya, Bali dan Lombok. Begitu cintanya, ia mendesain banner i fall in love blogdetik dan menyebarkan ke seluruh teman-temannya. Jika berminat ingin pasang banner dia, silakan kunjungi blognya.

No comments:

Post a Comment